Dinamika Politik Memasuki Babak Baru Rekonsiliasi Sanggup Dicermati Oktober Mendatang

Dinamika Politik Memasuki Babak Baru Rekonsiliasi Sanggup Dicermati Oktober Mendatang

Dinamika politik setelah Pemilu 2019 kini memasuki babak baru. Namun, barangkali poros-poros baru dan rekonsiliasi bersyarat sanggup dicermati terhadap Oktober mendatang.

Dinamika Politik Memasuki Babak Baru Rekonsiliasi Sanggup Dicermati Oktober Mendatang

Sebab kala itu, posisi kabinet dan pimpinan badan legislatif diumumkan. “Tadinya peta politik Indonesia bipolar. Dua kutub, kontraksinya amat keras, amat kencang. Hanya 01,02. Pendukung Prabowo, Jokowi. Tapi mulai ke sini udah mulai mencair,” kata Direktur Eksekutif Lembaga Survei Poltracking Indonesia Hanta Yudha di dalam diskusi politik di Jakarta Pusat, Jumat (2/8).

Ia menjelaskan dinamika politik paling baru ini berpotensi mengkristal ke polar-polar baru atau poros-poros baru. “Ada pertemuan di Gondangdia, di Teuku Umar, dan sebagainya,” kata dia.

Menurut Hanta Yudha, kemurnian rekonsiliasi antara kubu-kubu yang bertentangan waktu pemilihan presiden sanggup keluar kala pelantikan anggota legislatif terhadap Oktober 2019. Saat ini, koalisi calon presiden dan wakil presiden terpilih Joko Widodo dan Ma’ruf Amin menguasai kurang lebih 60 % kursi legislatif.

Namun, kecuali Partai Gerindra mengidamkan masuk di dalam pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) maka diperlukan komunikasi politik bersama dengan Jokowi dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. “Kalau Gerindra, misalnya, Ahmad Muzani dapat didorong menjadi pimpinan MPR, langkah paling pas untuk berhasil ya memang perlu membangun komunikasi bersama dengan koalisi Jokowi, bersama dengan Teuku Umar,” ujarnya.

Hadir termasuk di dalam diskusi tersebut, Wasekjen Partai Gerindra Andre Rosiade menjelaskan pertemuan yang dilakukan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto bersama dengan ke dua tokoh tersebut bukanlah rekonsiliasi bersyarat ditukar jabatan di pemerintahan atau kursi MPR. Namun, dia tidak menolak bahwa Gerindra punyai keinginan untuk memperoleh posisi mutlak tersebut.

“Tapi kita termasuk tidak munafik, sebagai partai peraih nada terbanyak kedua, kecuali seumpama diberikan peluang untuk memperoleh salah satu pimpinan MPR dan kita sanggup berkontribusi positif bagi bangsa dan negara, tentu kita dapat mengusulkan calon kita,” tegas Andre.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *