Direktur Charta Politika Yunarto Wijaya Menyebut Ahok Tak Dapat Jadi Menteri Secara Hukum

Direktur Charta Politika Yunarto Wijaya Menyebut Ahok Tak Dapat Jadi Menteri Secara Hukum

Direktur Charta Politika Yunarto Wijaya menyebut kalau mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dengan kata lain Ahok tak dapat jadi menteri secara hukum.

Direktur Charta Politika Yunarto Wijaya Menyebut Ahok Tak Dapat Jadi Menteri Secara Hukum

Sebab, Ahok udah pernah dipenjaraBandar Bola dikarenakan persoalan penodaan agama dan merintis hukuman lebih dari satu tahun.

Namun, perihal itu bisa saja saja menurut Marzuki Alie.

Hal itu disampaikan oleh Yunarto Wijaya di account Twitter-nya, @yunartowijaya.

Yunarto Wijaya menyampaikan itu sementara mengomentari tulisan @CG_chotimah soal Ahok.

Akun itu memposting video Ketum PDI-P Megawati Soekarnoputri yang memperkenalkan Ahok sebagai kadernya.

Kemudian account itu menyebut kalau Ahok dapat jadi menteri di kabinet Jokowi.

“Ahok sdh formal jadi kader PDI Perjuangan,

jika sebenarnya pembagian menteri unk PDIP disempurnakan serupa pak Jokowi dan Ahok yg dipilih,

cocoknya dia jadi menteri apa ya?

Duet Jokowi Ahok lg, bakalan tersedia yg kejang2.

#TetapMega,” tulis account tersebut.

Tweet itu kemudian ditanggapi oleh Yunarto Wijaya yang menyebut kalau Ahok tak bisa saja jadi menteri secara hukum.

“By law ahok gak bisa saja jadi menteri…,” tulisnya.

Rupanya respon Yunarto Wijaya itu dikomentari lagi oleh mantan Ketua DPR RI th. 2009-2014 tersebut.

Melalui account Twitter-nya @marzukialie_MA, ia menyebut kalau Ahok masih dapat jadi menteri.

Sebab secara politik menurut dia, suami dari Puput Nastiti Devi itu masih dapat jadi menteri.

“By politic bisa,” tulisnya.

Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dengan kata lain Ahok menciptakan aplikasi bernama Jangkau.

Aplikasi ini ditujukan untuk mempertemukan penduduk yang idamkan berikan pertolongan dan membutuhkan bantuan.

Sebelumnya, Ahok menyatakan bahwa rancangan aplikasi ini seperti e-commerce yang mempertemukan penjual dan pembeli.

Bedanya, yang ditawarkan dalam aplikasi ini adalah pertolongan yang dikhususkan untuk manula dan anak-anak, serta penyandang disabilitas.

Melalui account Twitternya, @basuki_btp, Ahok menyebut aplikasi selanjutnya sementara ini udah dapat diunduh di Google Play Store untuk OS Android.

“Sekarang aplikasi @IdJangkau udah dapat di-download di Google Playstore,” twit Ahok melalui Twitternya, Selasa (6/8/2019).

Sebelumnya, Ahok menceritakan bahwa dirinya idamkan mengabdi untuk bangsa bersama menciptakan aplikasi yang melibatkan anak muda.

“Nah, kenapa sih enggak membuat aplikasi orang yang pengin nyumbang serupa orang yang terima sumbangan ketemu. Nah, kita pikir sih aplikasi Jangkau,” kata Ahok.

Dengan aplikasi ini, kata Ahok, siapa pun yang punyai barang atau apa pun untuk disumbangkan dapat bertemu langsung bersama warga yang membutuhkan.

Ahok pun mendorong politisi untuk jadi pemerhati yang melakukan verifikasi pihak yang membutuhkan pertolongan maupun memberikan bantuan.

“Misal tersedia orang minta kursi roda di wilayah Jakarta Barat, Kedoya. Kalau orang masuk tersedia yang berkenan nyumbang kan terdaftar, saya pegang tersedia notifikasinya. Nanti siapa yang verifikasi, harus orang partai,” kata Ahok.

Berdasarkan info di aplikasi Jangkau, disebutkan bahwa aplikasi selanjutnya merupakan platform nonprofit yang diciptakan untuk menolong mencukupi keperluan manula dan anak-anak yang berkekurangan.

Aplikasi selanjutnya terhitung ditujukan untuk keperluan darurat yang tidak terjangkau, seperti sakit keras, kecelakaan, dan sebagainya.

“Tidak harus berlebih untuk dapat berbuat baik. Setiap barang baru maupun barang bekas yang udah tidka terpakai lagi dapat dititipkan kepada kita untuk berikutnya kita salurkan kepada yang membutuhkan,” bunyi info di aplikasi tersebut.

Di aplikasi terhitung disebutkan, Jangkau terbuka untuk bekerja serupa bersama organisasi nonprofit yang punyai visi dan misi searah.(*)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *