Megawati Ingin PDIP Jadi Kaum Milenial 2020

Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri menyentil generasi milenial, di dalam hal ini para pelajar dan mahasiswa yang menyuarakan protes ke jalanan. Hal itu disampaikan Mega bertepatan Hari Peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober.

Mega menyinggung kaum milenial, yang dianggapnya sejauh ini hanya demo, tidak benar satunya menampik Undang-undang Omnibus Law Cipta Kerja. Mega justru mempertanyakan sumbangsih kaum milenial untuk negara. Mega di dalam peluang itu juga berharap Presiden Jokowi tak memanjakan kaum milenial waktu ini.

saya enggak peduli,” kata Megawati, Rabu (28/10).

Nada negatif merespons menyongsong ucapan Megawati dari para milenial. Salah satunya Fajar Adi Nugroho (22). Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) itu menyayangkan sikap para elite partai dan pemerintahan yang sering kali remehkan gerakan anak muda.

Padahal kata Fajar, aksi unjuk rasa itu juga merupakan sumbangsih  Pasang Bola yang mereka melaksanakan di dalam bentuk nyata untuk bangsa. Mereka turun ke jalan demi memperjuangkan hak rakyat.
Lihat juga: PDIP soal Sumbangsih Milenial hanya Demo: Maksud Ibu Mega Baik

“Ini bukti dari amalan Tri Dharma Perguruan Tinggi, amalan pendidikan dan pengabdian kami terhadap rakyat,” kata Fajar. Sebaliknya, Fajar justru mempertanyakan generasi senior yang hanya diam menyaksikan rakyat sengsara.

Pernyataan Megawati dipandang sanggup jadi blunder (kesalahan) lantaran tidak benar alamat. Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin menyebut Mega tidak benar alamat jikalau peryataan selanjutnya disampaikan ke kaum milenial yang sering melaksanakan aksi unjuk rasa mengenai Omnibus Law Cipta Kerja ini.

“Justru anak muda yang melaksanakan demo itulah mereka yang terlampau responsif,” kata Ujang dihubungi melalui telepon, Kamis (29/10).

Para milenial, kata Ujang, bergerak bukan tanpa alasan. Mereka menyaksikan situasi bangsa di dalam situasi yang tidak baik-baik saja. Inilah yang alasan mereka untuk bergerak, berikan sumbangsih dengan langkah konstitusional, tidak benar satunya dengan berunjuk rasa.

“Demo itu kan tidak benar satu langkah anak muda untuk mengungkapkan kecemasan atas nasib bangsa. Atas kecemasan disahkan Undang-undang Omnibus Law Cipta Kerja,” kata dia.

Ujang juga secara blak-blakan menyebut pengakuan Mega ini dapat mempengaruhi pemilih yang umumnya dari kaum milenial waktu Pemilu 2024 mendatang.
Lihat juga: Milenial Balas Megawati: Demo Ini Pengabdian Kami bikin Rakyat

Namun kata dia, besarnya dampak ini selamanya tergantung terhadap lawan politik Mega apakah mau selamanya menggoreng isu ini agar tetap diingat penduduk atau sebaliknya melepas sampai sesudah itu dilupakan.

“Akan berpengaruh jikalau kasus ini atau statement blunder ini tetap di-blow up tetap menerus,” kata dia.

Ingat sejarah

Pengamat politik UIN Jakarta Adi Prayitno justru berharap agar Mega semestinya mengingat sejarah. Salah satunya tentang pergantian dan histori Indonesia berdiri sebagai negara demokratis merupakan sumbangsih para pemuda atau waktu ini dikenal milenial di jaman lalu.

“Revolusi kemerdekaan di mulai anak muda, penggulingan Soeharto juga anak muda. Jelas itu kontribusi,” kata dia.

Meski begitu kata dia, sebenarnya waktu ini peran anak muda atau milenial terbilang kecil, tergerus oleh grup tua yang masih enggan berpindah dari posisi mereka. Bahkan hal itu juga berjalan di Partai yang dipimpin Mega sendiri.

“Pernyataan Bu Mega ini kan sebenarnya menginginkan tegaskan bahwa PDIP sejauh ini cukup didominasi oleh grup tua,” kata dia.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *