Peran Milenial Dalam Membangun Indonesia

Peran Milenial Dalam Membangun Indonesia

Peran Milenial Dalam Membangun Indonesia – kala ini, kaum milenial dinilai miliki peran penting didalam proses penguatan demokrasi. Hal ini gara-gara lebih berasal dari setengah keseluruhan kuantitas masyarakat Indonesia merupakan kaum milenial.

Generasi milenial diakui sebagai bonus demografi yang dimiliki oleh Indonesia, generasi ini lahir di masa teknologi dan internet merasa berkembang pesat. Para milenial ini lah yang jadi harapan untuk masa saat ini dan masa depan didalam membangun Indonesia.

Peran milenial terlalu dibutuhkan sebagai agent of change didalam bermacam hal, layaknya keliru satunya ialah politik. Namun, jikalau diperhatikan pada kala ini minat milenial pada politik merasa berkurang.

Hal ini gara-gara banyak orang menyaksikan “politik” cenderung dengan perebutan kekuasaan dan menyaksikan politik sebagai sebuah lingkaran setan. Perspektif layaknya inilah yang kudu diubah oleh para milenial dan memutus lingkaran setan tersebut.

Begitu terhitung dengan kasus demokrasi di Indonesia, hingga kala ini masih banyak generasi milenial yang apatis pada perkembangan demokrasi di negara ini. Ini pasti saja disebabkan gara-gara suatu alasan.

Survei pada milenial yang telah dilakukan oleh Atma Jaya Institute for Public Policy (AJIPP) memperlihatakan bagaimana pendapat para milenial perihal demokrasi di Indonesia yang dinilai masih buruk, bahkan beberapa berasal dari mereka menyebutkan terlalu buruk.

Alasan mengapa demokrasi di Indonesia dikatakan buruk ialah menurut 44 % milenial gara-gara terdapatnya politisasi agama. Dengan hasil yang lain mengatakan, gara-gara terdapatnya hoax (22 persen), korupsi (17 persen), radikalisme (11 persen), kekuatan penguasa (1 persen), dan lain-lain (3 persen).

Dalam perihal ini, politisasi agama nilai miliki efek besar pada buruknya pelaksanaan demokrasi di Indonesia. Agama sering kali dikaitkan dengan pelaksanaan demokrasi, oleh para golongan khusus sering dijadikan sebagai alat politik.

Isu politisasi agama inilah yang menjadikan efek buruk bagi demokrasi didalam negara yang majemuk ini. Ditambah lagi dengan maraknya hoax yang sering diterima oleh masyarakat, korupsi yang masih terlalu banyak terjadi, radikalisme, dan kekuatan berasal dari penguasa.

Hal-hal layaknya inilah yang sering jadi alasan utama mengapa para generasi milenial miliki minat yang terbatas pada demokrasi di negara ini, mereka cenderung menilai bahwa demokrasi di Indonesia ini hanyalah hanyalah politisasi agama, radikalisme, dan kekuatan penguasa saja.

Di balik perihal itu, memang masih banyak perihal yang bisa dilakukan oleh para generasi milenial untuk menopang mewujudkan demokrasi Indonesia yang lebih baik, agar politik dinegara ini tidak lagi tetap disalahgunakan oleh suatu golongan yang mencari kesempatan untuk mendapatkan jabatan, kekuasaan, ataupun demi mendapatkan uang.

Karena pada dasarnya hakikat demokrasi itu sendiri ialah berasal berasal dari rakyat, layaknya yang di katakan oleh Sidney Hook “demokrasi merupakan bentuk pemerintahan di mana keputusan penting pemerintahan yang didasarkan pada suatu kesepakatan mayoritas yang tercipta berasal dari nada rakyat”. Demokrasi memang semestinya tercipta berasal dari nada rakyat bukan nada suatu golongan tertentu.

Untuk mengurangi hal-hal buruk itu, banyak yang bisa dilakukan oleh masyarakat dengan mengfungsikan kecanggihan teknologi kala ini. Para milenial ini adalah generasi yang terlalu mahir didalam menggerakkan teknologi.

Dengan kekuatan yang dimiliki di dunia teknologi dan sarana prasarana yang ada, generasi milenial ini miliki kesempatan yang terlalu banyak atau potensi agar bisa berada didepan berasal dari generasi yang sebelumnya. Dengan terdapatnya teknologi mereka bisa untuk jalankan pengawasan (controlling) pada jalannya pelaksanaan demokrasi.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *