Sejarah Ketua Umum Golkar Pertama

Sejarah Ketua Umum Golkar Pertama

Angkatan 66 adalah angkatan yang lahir lantas bertarung dengan dibekingi oleh tentara. Tak cuma golongan mahasiswanya, tapi juga sebuah golongan yang sesudah itu dikenal sebagai Golongan Karya (Golkar). Ketua Umum pertama Golkar adalah Brigadir Jenderal Djuhartono, sebelum akan selanjutnya digantikan jenderal lain bernama Brigadir Jenderal Soeprapto Soekowati.

Sejarah Ketua Umum Golkar Pertama

Djuhartono jadi Ketua Umum Golkar sejak 1964 hingga Desember 1965. Sebagai militer, baik Djuhartono maupun Soekowati telah lama dekat dengan politikus dan aktivis sipil. “S. Soekowati, Let. Kol. Djuhartono dan Mayor Harsono dan kawan- kawan membentuk macam-macam Badan Kerjasama (BKS) golongan-golongan Karya dan Militer seperti BKS Buruh Militer, BKS Seniman Militer, BKS Pemuda Militer dan lain- lain,” tulis Junus Jahja di dalam Catatan seorang WNI: Kenangan, Renungan & Harapan (1989: 44). Sebelum Golkar berdiri, Djuhartono adalah orang perlu di Front Nasional, di mana dia jadi Wakil Sekretaris Jenderal. “

Sebenarnya badan ini (Front Nasional) pada mulanya bagi kepentingan perjuangan pembebasan Irian Barat, Ketika Angkatan Darat membentuk Front Nasional Pembebasan Irian barat. Saya diangkat sebagai tidak benar seorang berasal dari tiga sekretaris. Ketika itu pangkat aku kolonel, dirasakan adalah perlu ada wakil AD di situ untuk memimpin proses,” aku Djuhartono seperti dikutip Saskia Wieringa di dalam Penghancuran Gerakan Perempuan: Politik Seksual di Indonesia Pascakejatuhan PKI (2010: 176). Setelah Irian Barat dianggap selesai, ada tuntutan berasal dari partai-partai untuk membubarkan Front Nasional, sebab ada AD ada di sana.

Golkar yang Sukarnois

Sepengakuan Djuhartono, seperti dicatat Saskia Wieringa, Presiden Sukarno pernah bilang padanya, “Djuhartono, dengan bantuanmu kita sanggup menampung PKI.” Djuhartono, seperti hampir seluruh perwira tinggi AD, sebetulnya tidak yakin PKI. Front Nasional pun tidak bubar. Pada 20 Oktober 1964, seperti dicatat David Reeve di dalam Golkar: Sejarah Yang Hilang (2013: 258), di dalam rapat paduan dewan pimpinan pusat Front Nasional dan 61 golongan karya, para peserta sepakat untuk membentuk Sekretariat Bersama (Sekber).

Inilah yang jadi cikal-bakal Golongan Karya. Sepenuturan Djuhartono, Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), di jaman Sekber berdiri, juga ingin bergabung. “Tetapi kita tidak mengundangnya. Kami tidak sanggup begitu saja menolaknya, tapi soalnya mereka organisasi yang telah berhimpun dengan suatu partai,” kata Djuhartono. Akhirnya Sekber Golkar sesudah itu jadi musuh Gerwani. Djuhartono mengaku, “kami mengontrol massa mengambang perempuan yang juga ingin mereka (Gerwani) pengaruhi.”

Sekber Golkar jadi organisasi besar yang mengontrol 40 juta rakyat dan menurut Djuhartono cukup dominan. Menurut David Reeve (hlm. 260), Djuhartono dan Imam Pratignjo (pimpinan Front Nasional) sepertinya tokoh yang tidak memihak, pemberes masalah, klien dengan beberapa patron, dan berkaitan dengan Subandrio (Menteri Luar Negeri dan pimpinan Badan Pusat Intelejen). Di bawah orang macam Djuhartono, Pratignjo, dan Junius Kurami Tumakaka (tokoh Kristen), Sekber adalah Sukarnois. Setelah Desember 1965 dan tak ulang dipimpin Djuhartono, Sekber tidak berpihak ke Sukarno lagi, lebih-lebih cenderung kepada Soeharto.

Pada zaman Orde Baru Sekber Golkar cuma disebut Golkar dan menopang Soeharto di dalam Pemilu. Di awal-awal Soeharto berkuasa, Djuhartono ulang ke Angkatan Darat. Menurut catatan Harsya Bachtiar di dalam Siapa Dia Perwira Tinggi TNI AD (1988: 104), Djuhartono sejak Mei 1968 adalah bagian Kelompok Politik Team Politik, Ekonomi, Sosial (Poleksos) berasal dari orang nomer satu di Angkatan Darat. Kala itu Kasad dijabat oleh Jenderal Maraden Panggabean. Pangkat Djuhartono adalah brigadir jenderal.

Dari PRRI ke BKS

Pada 1965, usia Djuhartono kira-kira 40. Harsya Bachtiar mencatat dia lahir th. 1925. Karier militernya di zaman Jepang adalah komandan peleton Tentara Sukarela Pembela tanah Air (PETA) di Yogyakarta. Setelah Indonesia merdeka, seperti umumnya tentara PETA, dia ikut TNI. NRP-nya 13108. Djuhartono bertugas di Sumatra pada 1950-an.

Di paruh kedua 1950-an Djuhartono, yang pemuja Sukarno, berada di teritori berasal dari TT II (Kodam II) Sriwijaya, Sumatra Selatan. Dalam pergolakan PRRI di Sumatra Selatan, Djuhartono tampil sebagai pendukung pemerintah pusat. Setelah Letnan Kolonel Barlian—Panglima Tentara & Teritorium II Sriwijaya, yang berpusat di Palembang—mengambil alih kekuasaan, Mayor Djuhartono yang tidak sepakat pun menentangnya. Kala itu Djuhartono adalah pejabat komandan Resimen 5. Dia sempat melarikan diri ke pelabuhan udara Talang Betutu, di pinggiran kota Palembang. Laporan clash antara Djuhartono dengan Barlian memicu KSAD Kolonel Abdul Haris Nasution harus turun tangan. “

Untuk hindari pertempuran aku diminta langsung ke Palembang […] kita mendarat di dalam curah hujan yang keras, yang berkunjung menjemput adalah komandan AURI Talang Betutu dengan pejabat komandan Resimen 5 (Djuhartono),” kata Nasution di dalam memoar Memenuhi Panggilan Tugas: Jilid 4 Masa Pancaroba (1984: 83).

Djuhartono sesudah itu ditarik ke Jakarta. Letnan Kolonel Barlian,Taruhan Bola juga para perwira menengah yang terlibat PRRI, sesudah itu safe tanpa Djuhartono di Sumatra Selatan. Dia sesudah itu tak ditaruh sebagai perwira tempur dengan membawahi pasukan tempur. Djuhartono jadi perwira yang terjalin dengan orang-orang sipil dengan aktif di BKS-BKS dan selanjutnya di Front Nasional lantas Sekber Golkar. Setelah di Sekber Golkar,

Djuhartono sempat ditarik ulang ke jajaran staf petinggi Kasad disaat Soeharto menjadi berjaya. Harsya Bachtiar mencatat setelah tak di Angkatan Darat ulang Djuhartono pernah jadi Presiden Direktur PT AOA Zamrud Aviation Corporation dan Ketua Indonesia Association Carrier (INACA). Djuhartono tutup usia di Jakarta pada 10 Mei 1987 di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto. Di zaman Orde Baru dia cuma dikenal sebagai pendiri Golkar. Di luar itu, namanya jarang disebut.

Tags:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *