Untuk Apa Bikin Kota Bagus Kalau Warganya Menganggur

Untuk Apa Bikin Kota Bagus Kalau Warganya Menganggur

Untuk Apa Bikin Kota Bagus Kalau Warganya Menganggur

Wali Kota Tri Rismaharini atau Risma mengungkap bahwa dirinya pantang untuk meminta jabatan. Sebab, jabatan dianggapnya mempunyai kandungan risiko tentang kehidupan masyarakat.

Karena di jabatan itu selalu terdapat risiko di mana saya harus adil, amanah. Kalau di agama fatonah dan sebagainya. Jadi itu berat. Karena itu saya enggak pernah membayangkan,” sadar Risma di Jakarta, Sabtu (11/1/2020).

Karenanya, dia tak rela menangkap sinyal apa-apa tentang pujian Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri di pembukaan Rakernas I Jumat 10 Januari 2020 kemarin.

“Saya bersyukur Ibu memuji. Artinya sudah menerima apa yang coba saya melakukan di Surabaya,” tegas Risma.

Dia sebetulnya acap kali mendengar, jika sudah jadi Wali Kota lalu naik jadi Gubernur. Kemudian, usai jadi Gubernur jadi ke Presiden.

untuk apa saya jadi Presiden, misalkan. Tapi warga yang miskin selalu ada. Enggak ada gunanya untuk saya. Itu yang selalu saya tekankan. Itu pun pada diri saya sehingga saya tidak berubah,” sadar Risma.

“Kadang, jika ada laporan, Ya Tuhan, sudah saya cari hingga kemana-mana, orang memiliki masalah, misalkan enggak bisa sekolah. Kenapa tetap ada konsisten tiap-tiap hari. Artinya sebetulnya saya enggak boleh berpuas hasil,” lanjut dia.

Menurut dia, apa yang dilaksanakan Surabaya, jangan hanya diamati pertumbuhan fisiknya semata. Manusianya juga harus diurusi.

“Untuk apa saya membuat kota itu bagus, untuk apa membangun kota kemudian warga enggak bisa sekolah, nganggur. Untuk apa? Enggak ada gunanya kan kami bangun itu. Makanya saya selalu sampaikan, kami anggarkan pendidikan 30 persen,” tegas Risma.

Dia pun berharap, standing tak ada kembali kawasan kumuh di Surabaya bukan jadi alasan, masyarakatnya berdiam diri. Harus dipikirkan juga sehingga bisa beroleh kesejahteraan.

“Jadi sebetulnya berat mengelola. Makanya, saya enggak berani untuk meminta bahkan mikirin jabatan lain,” pungkasnya.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *